BUDIDAYA DAN KEUNGGULAN PADI ORGANIK METODE SRI (System of rice Intensification)
- 11 September 2012
- Oleh: bakorluh
- Tags: Maluku, materi penyuluhan pertanian, penyuluhan pertanian
- 1 Comment »
Oleh :
Nurhadi/ PPL Seram Utara
Abstrak
Budidaya padi organic metode SRI megutamakan potensi local dan disebut pertanian ramah lingkungan, akan sangat mendukung terhadap pemulihan kesehatan tanah dan kesehatan pengguna produknya. Pertanian organic pada prinsipnya menitikberatkan prinsip daur ulang hara melalui panen dengan cara mengembalikan sebagian biomassa ke dalam tanah dan konservasi air serta mampu memberikan hasil yang lebih tinggi dibandiingkan dengan metode konvensional.
1. Inovasi Metode SRI
SRI adalah teknik budidaya padi yang mamupu meningkatkan produktifitas padi dengan cara mengubah pengelolaan tanaman, tanah, air dan unsure hara, terbukti telah berhasil meningkatkan produktifitas padi sebesar 50%, bahkan dibeberapa tempat mencapai lebih dari 100%.
Metode ini pertama kali ditemukan secara tidak disengaja di Madagaskar antara tahun 1983-1984 oleh Fr. Henri de Laulianie, SJ, seorang Pastor Jesuit asal Prancis yang lebih dari 30 tahun hidup bersama petani-petani di sana. Oleh penemunya, metodologi ni selanjutnya dalam bahasa Prancis dinamakan le System de Riziculture Intensive disingkat SRI. Dalam bahasa Inggris popular dengan nama System of Rice Intensification, disingkat SRI.
Tahun 1990 dibentuk Assosiation Tefy Saina (ATS), sebuah LSM Malagasy memperkenalkan SRI. Empat tahun kemudian, Cornell International Institution for Food, Agruculture and Development (CIIFAD), mulai bekerja sama denga Tefy Saina untuk memperkenalkan SRI di sekitar Ranomafana National Park di Madagaskar Timur, didukung oleh US Agency for Internatioanl Development, SRI telah diuji Cina, India, Indonesia, Filipina, Sri Lanka, dan Bangladesh dengan hasil yang positif.
SRI menjadi terkenal di dunia melalui upaya dari Norman Uphoff (Director CIIFAD). Pada tahun 1987, Uphoff mengadakan persentase SRI di Indonesia yang merupakan kesempatan pertama SRI dilaksanakan di luar Madagaskar.
Hasil Metode SRI sangat memuaskan. Di Madagaskar, pada beberapa tanah tak subur yang produksi normalnya 2 ton/ha, petaani yang menggunakan SRI memperoleh hasil panen lebih dari 8 ton/ha, beberapa petani memperoleh 10 -15 ton/ha, bahkan ada yang mencapai 20 ton/ha. Metode SRI minimal menghasilkan panen dua kali lipat dibandingkan metode yang biasa dipakai petani. SRI minimal menghasilkan panen dua kali lipat dibandingkan dengan metode yang biasa dipakai petani. Hanya saja diperlukan pikiran yang terbuka untuk menerima metode baru dan kemauan untuk bereksperimen. Dalam SRI tanaman diperlakukan sebagai organism hidup sebagaimana mestinya, bukan diperlukan seperti mesin yang dapat dimanipulasi. Semua unsure potensi dalam tanaman padi dikembangkan dengan cara memberikan kondisi yang sesuai dengan pertumbuhannya.
2. Prinsip-prinsip Budidaya padi Organik Metode SRI
- Tanaman bibit muda berusia kurang dari 12 hari setelah semai (bus) ketika bibit masih berdaun 2 helai
- Bibit ditanam satu pohon perlubang dengan jarak 30 x 30, 35 x 35 atau lebih jarang
- Pindah tanam harus sesegera mungki (kurang dari 30 menit) dan harus hati-hati agar akar tidak putus dan ditanam dangkal
- Pemberian air maksimal 2 cm (macak-macak) dan periode tertentu dikeringkan sampai pecah (Irigasi berselang/terputus)
- Penyiangan sejak awal sekitar 10 hari dan diulang 2-3 kali dengan interval 10 hari
- Sedapat mungkin menggunakan pupuk 0rganik ( kompos atau pupuk hijau)
3. Keunggulan Metode SRI
- Tanaman hemat air, selama pertumbuhan dari mulai tanam sampai panen memberikan air max 2 cm, paling baik macak-macak sekitar 5 mm dan ada periode pengeringan sampai tanah retak (Irigasi terputus).
- Hemat Biaya, hnaya butuh benih 5 kg/ha. Tidak memerlukan biaya pencabutan bibit, tidak memerlukan biaya pindah bibit, tenaga tanam kurang dll.
- Hemat waktu, ditanam bibit muda 5 – 12 hss, dan waktu panen akan lebih awal
- Produksi meningkat, dibeberapa tempat mencapai 11 ton/ha
- Ramah lingkungan, tidak menggunakan bahan kimia dan digantikan dengan menggunakan pupuk organic (kompos, kandang dan Mikro-organisme Lokal), begitu juga penggunaan pestisida.
4. Teknik Budidaya Padi Organik Metode SRI
- Persiapan Benih
Benih sebelum disemai diuji dalam larutan air garam. Larutan air garam yang cukup untuk menguji benih adalah larutan yang apabila dimasukan telur, maka telur akan mengapung. Benih yang baik untuk dijadijan benih adalah benih yang tenggelam dalam larutan tersebut. Kemudian benih telah diuji direndam dalam air biasa selama 24 jam kemudian ditiriskan dan diperam 2 hari, kemudian disemaikan pada media tanah dan pupuk organic (1:1) di dalam wadah segi empat ukuran 20 x 20 cm(pipiti) selama 7 hari. Setelah 7 – 10 hari benih padi sudah siap ditanam.
2. Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah untuk Tanaman Padi metode SRI tidak berbeda dengan cara pengolahan tanah untuk tanam padi secara konvesional yaitu dilakukan untuk mendapatkan struktur tanah yang lebih baik bagi tanaman, terhindar dari gulma. Pengolahan dilakukan dua minggu sebelum tanam dengan menggunakan traktor tangan, sampai terbentuk struktur lumpur. Permukaan tanah diratakan untuk mempermudah mengontrol dan mengendalikan air.
3. Perlakuan pemupukan
Pemberian pupuk pada SRI diarahkan kepada perbaikan kesehatan tanah dan penambahan unsur hara yang berkurang setelah dilakukan pemanenan. Kebutuhan pupuk organik pertama setelah menggunakan system konvensional adalah 10 ton per hektar dan dapat diberikan sampai 2 musim tanam. Setelah kelihatan kondisi tanah membaik maka pupuk organik bisa berkurang disesuaikan dengan kebutuhan. Pemberian pupuk organic dilakukan pada tahap pengolahan tanah kedua agar pupuk bisa menyatu dengan tanah.
4. Pemeliharaan
Sistem tanam metode SRI tidak membutuhkan genangan air yang terus-menerus, cukup dengan kondisi tanah yang basah. Penggenangan dilakukan hanya untuk mempermudah pemeliharaan. Pada prakteknya pengelolaan air pada system padi organik dapat dilakukan sebagai berikut : pada umur 1-10 HST tanaman padi digenangi dengan ketinggian air rata-rata 1 cm, kemudian pada umur 10 hari dilakukan penyiangan. Setelah dilakukan penyiangan tanaman tidak digenangi. Untuk perlakuan yang masih membutuhkan penyiangan berikutnya, maka dua hari menjelang penyiangan tanaman digenang. Pada saat tanaman berbunga, tanaman digenang dan setelah padi matang susu tanaman tidak digenangi kembali sampai panen.
Untuk mencegah hama dan penyakit pada SRI tidak digunakan bahan kimia, tetapi dilakukan pencegahan dan apabila terjadi gangguan hama/penyakit digunakan pestisida nabati dan atau digunakan secara fisik dan mekanik.
5. Pertanian Padi Organik Metode SRI dan Konvesional
Sistem tanam padi SRI, pada prakteknya memiliki banyak perbedaan dengan system tanam Konvensional (Tabel 3.).
Tabel 3. Perbedaan system tanam padi Organik SRI dengan system Konvensional
| No. |
Komponen |
Sistem Konvensional |
Sistem Organik SRI |
|
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.
10. |
Kebutuhan benih
Pengujian benih Umur di persemaian Pengolahan tanah Jumlah tanaman perlubang Posisi akar waktu tanam Pengairan Pemupukan Penyiangan
Rendeman |
30 – 40 kg/ha
Tidak dilakukan 20 – 3- HSS 2 – 3 kali (struktur lumpur) Rata-rata 5 pohon Tidak teratur Terus digenangi Mengutamakan pupuk kimia Diarahkan kepada pemberantasan gulma
|
5 – 7 kg/ha
Dilakukan pengujian 7 – 10 HSS 3 kali (Struktur lumpur dan rata) 1 pohon/lubang Posisi akar horozzontal (L) disesuaikan |
Keterangan : HSS = Hari setelah semai
6. Perbedaan Hasil Cara SRI dengan Konvensional
Kebutuhan pupuk organic dan pestisida untuk padi organic metode SRI dapat diperoleh dengan cara mencari dan membuatnya sendiri. Pembuatan kompos sebagai pupuk dilakukan dengan memanfaatkan kotoran hewan, sisa tumbuhan dan sampah rumah tangga dengan menggunakan aktifator MOL (Mikro-organisme Lokal) buatan sendiri, begitu pula dengan pestisida dicari dari tumbuhan berkhasiat sebagai pengendali hama. Dengan demikian biaya yang dikeluarkan menjadi lebih efisien dan murah.
Penggunaan pupuk organic dari musim pertama ke musim berikutnya mengalami penurunan rata-rata 25% dari musim sebelumnya. Sedangkan pada metode konvensional pemberian pupuk anorganik dari musim ke musim cenderung meningkat, kondisi ini akan lebih sulit bagi petani konvensional untuk dapat meningkatkan produksi apalagi bila dihadapkan pada kelangkaan pupuk dikala musim tanam tiba.
Pemupukan dengan bahan organic dapat memperbaiki kondisi tanah baik fisik, kimia maupun biologi tanah, sehingga pengolahan tanah untuk metode SRI menjadi lebih mudah dan murah, sedangkan pengolahan tanah yang menggunakan pupuk anorganik terus-menerus kondisi tanah semakin kehilangan bahan organic dan kondisi tanah semakin berat, mengakibatkan pengolahan semakin sulit dan biaya akan semakin mahal.
Tabel 4. Analisa Usaha Tani Cara Konvensional dan Metode SRI setelah musim ke -2 dalam 1 Ha
| No |
Uraian |
Cara Biasa |
Cara Organik SRI |
|
A. |
Komponen Input/ha
Benih (Rp 5.000/kg) Pupuk 1. Organik (Jerami + 3 ton kompos) 2. Anorganik Urea, SP36, KCl (2:1:1) Pengolahan Tanah Pembuatan Persemaian Pencabutan Benih (babut) Penanaman Penyulaman Penyiangan Pengendalian OPT dengan 1. Pestisida kimia 2. Biopestisida Panen |
250.000
- 750.000 1.000.000 105.000 100.000 350.000 20.000 750.000
500.000 - 1.000.000 |
25.000
1.200.000 - 1.000.000 30.000 - 350.000 50.000 1.050.000
- 150.000 2.000.000 |
| Jumlah |
4.825.000 |
5.855.000 |
|
|
B |
Komponen Output
- Produksi padi - Harga Padi Rp. 2.000/Kg (diprediksi harga sama) |
5 ton 10.000.000 |
10 ton 20.000.000 |
|
C |
Keuntungan |
5.175.000 |
14.145.000 |
Hasil pada metode SRI pada musim pertama tidak jauh berbeda dengan hasil sebelumnya (metode konvensional) dan terus meningkat pada musim berikutnya sejalan dengan meningkatnya bahan organic dan kesehatan tanah.
Beras organik yang dihasilkan dari system tanam di musim pertama memiliki harga yang sama dengan beras dari system tanah konvensional, harga ini didasarkan atas dugaan bahwa beras tersebut belum tergolong organic, karena pada lahan tersebut masih ada pupuk kimia yang tersisa dari musim tanam sebelumnya. Dan untuk musim berikutnya dengan menggunakan metode SRI secara berturut-turut, maka sampai musim ke-3 akan diperoleh beras organic dan akan memiliki harga yang lebih tinggi dari beras padi dari system konvensional.
7. Manfaat Sistem SRI
Secara umum manfaat dari budidaya metode SRI adalah sebagai berikut :
- Hemat air (tidak digenang), Kebutuhan air hanya 20 – 30% dari kebutuhan air untuk cara konvensional
- Memulihkan kesehatan dan kesuburan tanah, serta mewujudkan keseimbangan ekologi tanah
- Membentuk petani mandiri yang mampu meneliti dan menjadi ahli di lahannya sendiri. Tidak tergantung pada pupuk dan pestisida kimia buatan pabrik yang semakin mahal dan terkadang langka
- Membuka lapangan kerja di pedesaan, mengurangi pengangguran dan meningkatkan pendapatan keluarga petani
- Menghasilkan produksi beras yang sehat rendemen tinggi, serta tidak mengandung residu kimia
- Mewariskan tanah yang sehat untuk generasi mendatang
8. KESIMPULAN
Metode SRI menguntungkan untuk petani, karena produksi meningkat sampai 10 ton/ha, selain itu karena tidak mempergunakan pupuk dan pestisida kimia, tanah menjadi gembur, miikroorganisme tanah meningkat jadi ramah lingkungan.
Untuk mempercepat penyebaran metode SRI perlu dukungan dengan kebijakan pemerintah pusat maupun daerah.
DAFTAR PUSTAKA
Entun Santosa, 2005. Rice Organic farming is programme for strengtenning food security in sustainable rural development, Makalah disampaikan pada seminar Internasional Kamboja ROF.
Kuswara dan Alik Sutaryat, 2003. Dasar Gagasan dan Praktek Tanam Padi Metode SRI (System of Rice Intensifiction). Kelompok Studi Petani (KSP). Ciamis
Mutakin, J. 2005. Kehilangan Hasil Padi Sawah Akibat Kompetisi Gulma pada Kondisi SRI (System of Rice Intensifiction). Tesis. Pascasarjana. Unpad Bandung.
Sampurna Untuk Inddonesia, 2008. SRI System Rce Intensification, Pasuruan
IDENTITAS PENULIS
Nama : JENAL MUTAKIN
Tempat/Tanggal Lahir : Garut, 5 Maret 1967
Pendidikan Terakhir : (S2) Magister Pertanian
Pekerjaan : Dosen tetap Yayasan Universitas Garut
Tempat tinggal sekarang : Kp. Cikubang RT 02 RW 05 Kelurahan Lebakjaya Kec. Karangpawitan Garut Tlp. (0262) 239 852