Bakorluh Maluku - Pertanian Bakorluh Maluku - Perikanan Bakorluh Maluku - Kehutanan

Panen Raya SL-PTT dan Demfarm Padi  di Desa Lorulung kec. Wertamrian Kabupaten Maluku Tenggara Barat  bukti keberhasilan revitalisasi Pertanian

OLEH : D. RANOLAT S.PI .

 

Bakorluh Maluku 2013

Bakorluh Maluku 2013

        Permintaan akan beras terus meningkat sejalan dengan laju pertumbuhan  penduduk kabupaten Maluku Tenggara Barat yang kian cepat. Disisi lain, dengan adanya perubahan iklim (yang menjadi lebih ekstrim) akibat pemanasan global, berdampak sistemik terhadap proses produksi dan produktivitas padi. Kedepan dipercaya pasar beras nasional akan menjadi lebih terbatas diakibatkan oleh berkurangnya lahan pertanian di kota-kota besar sebagai konsekwensi dari  lajunya pertumbuhan penduduk dan pembangunan di berbagai bidang, maka Maluku Tenggara Barat yang di tetapkan  sebagai Kawasan perbatasan oleh Badan Nasional Pengelolahan Perbatasan (BNPP) berdasarkan Peraturan Pemerintah RI                Nomor: 26 Tahun 2008 sebagai  PKSN (Prioritas Kawasan Strategis Nasional) menjadi peluang sekaligus tantangan tersendiri bagi pelaku usaha dan pelaku utama agribisnis   untuk mampu merevolusi budaya kerja petaninya, dari jenis perladangan berpindah menjadi perladangan menetap dengan membuka diri terhadap adopsi teknologi pertanian guna munuju  swasembada beras berkelanjutan serta harus memiliki cadangan beras yang cukup, agar ketahanan pangan dan kemandirian pangan tetap terjaga.  Hal ini di katakan oleh wakil Bupati Maluku Tenggara Barat: PP Werembinan, SH. Dalam sambutanya ketika membuka kegaitan panen raya padi gogo milik kelompok tani lendran pada tanggal : 10 Mei 2013 di lokasi SL-PTT dan Demfram padi Desa Lorulun Kecamatan Wertamrian Kabupaten Maluku Tenggara Barat.

Desa Lorulun yang berjarak +20 km dari pusat kota saumlaki sebagai ibu kota Kabupaten Maluku Tenggara Barat memiliki potensi pertanian yang  sangat baik, dengan luas wilayah Desa Lorulun 214 km persegi, dengan luas hutan 72 km, dan sisanya adalah luas pertanian yang dari tahun ketahun – ketahun mulai mendapat sentuhan teknologi pertanian guna meingkatkan produksi  dan prodiktivitas baik tanaman pangan maupun horti kultura, tahun 2012 pada musim tanam 2 desa Lorulun melalui 10 kelompok Tani mendapat bantuan yang berasal dari DAK  dan TP berupa : Program Perluasan Lahan, SL-PTT dan Demfarm. dengan sinergitas program bersama Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Bersama Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan  mengembangkan 100  hektar tanaman padi gogo jenis situ bagentit,  dan  10 hektar Sl- Agribisnis  padi gogo lokal  (hitam dan mera) sebagai potensi  yang spesifik lokalita menjadi platsmanuvta yang terus di kembangkan di daerah  ini, di samping  potensi pangan lain seperti umbi-umbian dan pisang. sebagai potensi pangan lokal masyarakat di desa dan kecamatan serta Kabupaten Maluku Tenggara Barat  pada umumnya . terbukti dari hasil ubinan  tahun 2013 yang di lakukan oleh Badan pusat statistik (BPS) MTB melalui Sensus Pertanian Tahun 2013  hasil produksi padi di desa Lorulun Kecamatan Wertamrian sebesar  2,5 ton/ha, bila di bandingkan tahun- tahun sebelumnya yang hanya mencapai 1,5 /hektarnya, dengan demikian produksi  padi gogo lahan kering  pada tahun ini lebih meningkat 50 %.

Lebih lanjut di katakan oleh PP. Werembinan.SH bahwa faktor kunci keberhasilan pelaksanaan kegiatan SL-PTT dan Demfram Sl-Agribisnis padi di desa Lorulun Kecamatan Wertamrian ini adalah : komitmen dari seluruh stoke holder yang berperan secara aktif baik pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah daerah, para camat, kepal desa, petugas lapangan (penyuluh,pengamat POPT/PHP) tokoh masyarakat pelaksana POS simpul koordinasi  Posluh  tingkat desa yang memiliki peran masing masing dalam membantu petani guna mengingkatkan produksinya teristimewa merubah main set serta budayah kerja petani dari cara bercocok tanam tradisional ke pertanian moderen  melalui  adosi teknologi pertanian yang relevan dengan perkembangan zaman, menjadi sebuah mimpi dari wakil bupati ketika suatu saat Maluku tenggara barat tidak lagi menjadi pemasok beras terbesar di maluku namun kelak menjadi penghasil suasembada beras di maluku, sebuah mimpi yang kian nyata di tahun 2013 ketika di musim tanam II ini. kecamatan Werlabobar, Nirumas, dan Tanimbar Utara turut melaksanakan panen raya di desa-desa sentra produksi di kecamatan masing masing.

Di samping kehadian Wakil Bupati  dalam  kegiatan ini   juga di hadiri oleh: Asisten Bidang Pemerintahan; Drs. E Metanfanuan, Ketua Komisi B DPRD MTB, Ny. Paula Laratmase, Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikulturan dan Peternakan                       Ir. J.R. Watumlawar.SP.M.Si. Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Ir. A.F. Lerrick , M.Si. turut membangkitkan semangat kelompok tani Demfarm dan SP-PPT.

Di samping itu, pada kesempatan yang sama   Ketua komusi B DPRD kabupaten MTB. sebagai komisi yang menagani  bidang Pertanian dan Ketahanan Pangan dalam wawancara bersama RRI  Saumlaki mengatakan, stikma buruk masa lalu sebagai pulau-pulau di bagian tenggara dan tenggara jauh sebagai “Forgoten Aile ( gugusan pulau yang terlupakan) sebuah buku di tuliskan oleh De Yong  seorang  antopolog Belanda  menjadi sebuah iktiar bagi masyarakat agraris di MTB untuk membuktikan bahwa pulau-pulai di pasifik bagian selatan  kini akan menjadi serambih depan Indonesia bagian selatan. dengan berbagai program yang siap di kawal olah DPRD kab. mtb sebagai kawasan Mandiri Pangan Perbatasan sebagai program untuk meningkatkan taraf hiduap masyarakat akan menjadi taruhan bagi DPR dalam mengawal pembangunan Pertanian menuju Kemandirian Pangan bagi masyarakat di Maluku Tenggara Barat untuk tahun 2014.

Dalam kesempatan yang sama Kepala Badan Ketahanan Pangan Kabupaten Maluku     Ir. A.F. Lerrick ,M.Si, mengatakan dalam program pemberdayaan masyarakat petani dan kelembagaannya dengan pendekatan Arin Dan Tyafar sebagai bentuk pendekatan kelembagaan kelompok tani dalam sistim adat masyarakat Adat Duan Lolat, sangat penting di lakukan sebagai potensi sosial dan kultural yang patut di lestarikan kelembaggaanya, karena evektivitas program pemberdayaan petani memiliki nilai ekonomis yang dapat di kawinkan dengan berbagai program dan pendekatan lain yang berdaya guna dan bergasil guna bagi masyarakat pada kawasan pengembangan perbatasan.

Di Tahun 2013 Badan Ketahanan  dengan  progres  yang tertuang Dalam Rood Map pengembangan Ketahanan Pangan masih berkisar pada program bantuan sosial (bansos) bagi kelompok tani dan gabungan kelompok tani, melalui kegiatan Desa Mandiri Pangan , desa replikasi, Optimalisasi Pekarangan  Melalui Rumah Pangan Lestari sebagai cikal bakal terpenuhinya Visi dan Misi Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan MTB yaitu: “Terwujudnya Pertanian Yang Tangguh Serta Masyarakat Mandiri Pangan Di Kaupaten Maluku Tenggara Barat.”

Entrecoccus faecium sebagai Probiotik Potensial

E. Faecium dapat tumbuh pada kisaran suhu yang luas, karena ikan dan udang berkembang pada suhu dan kondisi yang berbeda.

Bakteri Enterococcus faecum

Bakteri Enterococcus faecum

Perkembangan industry budidaya perikanan (aquaculture) yang sangat cepat, membuat industry ikan dan udang berada  dibawah ancaman merebaknya penyakit infeksi.  Anggota bakteri genus vibrio dan aeromonas telah dikenal sebagai pathogen paling umum pada ikan dan udang yang dapat menyebabkan kerugian serius pada fase larva dan pertumbuhan.

Penggunaan antibotik untuk mengontrol agen penyakit ini telah memicu masalah resistensi obat dan pembatasan perdagangan pada pasar ekspor.  Berbagai strategi alternative yang bertindak sebagai komponen anti microbial, yaitu penggunaan bakteri pencegah (probiotik) telah dimunculkan untuk meningkatkan kesehatan performa zooteknik seperti daya tahan hidup, produksi, konversi pakan, dan pertumbuhan dari kultur spesies perikanan.

Bakteri  probiotik merupakan pendekatan yang sesuai untuk memodulasi mikroflora usus melalui komposisi yang menguntungkan, hal ini menjadi sangat penting karena system pencernaan dari ikan dan udang merupakan pintu masuk utama dari infeksi.  Oleh sebab itu, kriteria seleksi dari probiotik untuk aquaculture harus didasarkan pada antagonismenya terhadap pathogen (melalui mekanisme kompetitif), perlekatannya pada usus dan produksi komponen-komponen yang bermanfaat (Vine et al, 2004).

Hal ini karena ikan dan udang di kultur pada kondisi yang berbeda, suhu optimum juga harus dipertimbangkan pada seleksi probiotik yang tepat.  Faktor penting lainnya adalah bahwa probiotk tersebut tidak berbahaya.  Selanjutnya, probiotik seharusnya dapat menambah efisiensi produksi, meningkatkan kesehatan dan menguatkan hewan (Brittain et al, 2002).

Probiotik Potensial

Bakteri Asal Laktat (LAB) merupakan kandidat probiotik yang potensial di aquaculture dan juga ditemukan pada usus ikan yang sehat.  Enterococcus faecium adalah salahsatu bakteri asam laktat yang paling sering digunakan sebagai nutrisi bagi hewan dan menjadi focus perhatian untuk digunakan pada spesies perikanan.

Enterecoccus merupakan bakteri gram positif, anaerob fakultatif yang tersebar secara luas di alam dan diyakini sebagai bakteri yang paling tidak berbahaya (Klare et al, 2003).  Infeksi yang ditimbulkan dari penggunaan probiotik Enterococcus tidak pernah ditemukan pada ilmu medis veteriner, maka dari itu risiko yang mungkin muncul dari penggunaannya sangatlah kecil.

Eaton dan Gasson (2001) menemukan bahwa strain E, faecium secara umum bebas dari faktor virulensi.  Dengan mempertimbangkan kemungkinan terjadinya resistensi antibiotic, pengujian profil antibiotic dai Enterococcus yang digunakan sebagai probiotik sangatlah relevan.  Namun, resistensi antibiotik  tersebut biasanya spesifik pada spesifik pada spesies maupun genus tertentu (Klare et al, 2003).  Jika probiotik Enterococcus telah teridentifikasi dengan akurat, maka dapat diuji resistensi spesifiknya.

Beberapa mekanisme penting probiotik dalam memproduksi asam laktat (misalnya E. faecium) dapat menunjukkan manfaat bagi performa dalam meningkatkan keseimbangan mikroba usus (Fuller , 1989), menstimulasi sistem imun, serta mengurangi pH dengan cara pelepasan bacteriosin (Rolfe, 2000).  Bakteriosin adalah peptide kecil yang dikenali dari kemampuannya untuk menghambat bakteri pathogen, beberapa jenis diantaranya memiliki spectrum aktivitas yang sempit dan lainnya mampu menghambat spectrum bakteri yang lebih luas.

Penelitian Enterococcus

Kajian invitro dengan menggunakan metode spot agar (Rosskopf, 2010) telah menunjukkan bahwa Enterococcus faecium (strain IMB 52) memiliki kemampuan penghambatan terhadap spesies pathogen yang luas.  Spesies pathogen tersebut meliputi Yersina ruckeri, Vibrio harveyi, Streptococcus agalactiae, dan Aeromonas veronii.

Sebuah penelitian yang sama yang dilakukan oleh Swan et al (2009) yang membuktikan aktivitas penghambat dari E. faecium yang diisolasi dari ikan di perairan Brackwish terhadap v. harveyi dan v.parahaemolyticus.  Penelitian ini menunjukkan potensi aplikasi dari E.faecium yang berasal dari usus ikan untuk mengontrol agen vibriosis pada budidaya udang.

Selain itu juga telah dilaporkan daya tahan hiup dari belut di eropa (Anguila Anguila L.) yang diberi tambahan pakan dengan E. Faecium lebih mampu bertahan hidup, daripada kelompok control yang tidak diberi E. Faecium setelah ditantang dengan Edward siellatarda (Chang and Liu, 2002).  Wang et al (2008) juga meneliti tentang penambahan E. faecium (1 x 107 CFU/ml) pada air akuarium dapat meningkatkan berat akhir dan pencapaian berat harian dari tilapia secara signifikan.

Hal ini disebabkan karena ada beberapa parameter kekebalan tilapia (myeloperoxidase dan  aktivitas bursti respirasinya) yang meningkat.  Peningkatan performa pertumbuhan kemungkinan disebabkan karena berkurangnya bakteri berbahaya, yang diperoleh dari manfaat innate immunity yang non spesifik pada ikan jenis ini.

Panigrahi et al (2007) meneliti modul asli imun yang melibatkan ekspresi gen cytokine pada ikan rainbow trout (Onocorhyncusmykiss) dan menunjukkan bahwa parameter ini meningkat oleh adanya pemberian pakan sediaan keringbeku probiotik Lactobacillus rhamnosus, Enterococcus faecium atau Bacillus subtilis (109 CFU/g) selama 45 hari.  Khususnya ikan yang diberi pkan Enterococcus faecium menunjukkan performa yang lebih baik yang dihubungkan dengan kondisi suhu yang sesuai untuk perkembangan strain ini.

Keunggulan

Suhu merupakan faktor lingkungan utama yang mengontrol pertumbuhan mikroba dan kondisi idealnya berbeda-beda diantara masing-masing mikroorganisme.  Bakteri E. faecium diketahui lebih psycho toleran disbanding yang diberi dua jenis bakteri yang lainnya yang dapat tumbuh dengan baik pada kisaran  suhu 12 hingga 300C.

Dengan menggunakan teknik Fluorescence In Situ Hybridization (FISH), Supamattaya et al (2005, 2006) telah menunjukkan dalam rangkaian peneltian in vivo-nya bahwa E. faecium juga memiliki kemampuan untuk hidup di usus udang (Litopennaeusvannamei) dan nila tapia (Oreochromisniloticus) serta menginduksi pengaruh positif lingkungan bakteri usus dengan cara menghambat Vibrio spp melalui mekanisme kompetitif.

E. Faecium bahkan maish ditemukan pada usus dan kotoran ikan setelah 10 hari dari pemberian produk tersebut.  Sebagai tambahan, telah dilakukan pengamatan pada aplikasi E. Faecium dalam diet secara terpisah maupun dikombinasikan dapat meningkatkan performa usus, meningkatkan respon imun (dengan cara peningkatan tingkat (hemocy granular ) (Supamattaya et al, 2005) dan daya tahan hidup pada udang yang terkontaminasi Vibrio parahaemolyticus  (Krummenauer et al, 2009).

Dari penelitian-peelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa Enterococcus faecium (strain IMB 52) adalah kandidat probiotik yang menjanjikan untuk spesies perikanan yang dapat diaplikasikan dengan kombinasi yang berbeda-beda.  Untuk menahan kepadatan produksi ikan dan udang, probiotik merupakan imbuhan pakan paling menjanjikan untuk menstimulasi pertumbuhan dan pertahanan penyakit E. Faecium dapat tumbuh pada kisaran suhu yang luas dan hal tersebut merupakan keunggulan dari jenis bakteri lain, karena ikan dan udang berkembang pada suhu dan kondisi yang berbeda-beda.

Oleh: Salman Haris Fuadi (Technical Officer PT Blomin Indonesia) dalam Majalah Trobos Aqua

 Edisi 07 Tahun I

 Diposting Oleh : Yudhistira

 

 

Stabilkan Harga Daging Sapi, Pemerintah Gandeng Bulog

JAKARTA, KOMPAS.com – Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa menyatakan pemerintah menggandeng Bulog untuk menstabilkan harga daging sapi yang saat ini bertengger di level Rp 90.000 per Kg.

Kebijakan itu dilakukan untuk menjaga kebutuhan bahan pokok yang berpotensi naik, jelang dinaikkannya harga bahan bakar minyak (BBM) serta Puasa dan Lebaran.

“Kami akan lakukan operasi pasar daging sapi untuk menjaga kenaikan harga pokok terkait inflasi, dan akan bekerja sama dengan Bulog dan Menteri Pertanian dengan menjaga ketersediaan pangan,” katanya di Jakarta, Senin (13/5/2013).

Mengenai potensi operasi pasar, Hatta menjelaskan, pergerakan harga daging sapi menunjukkan deflasi, pengecualian jika dibandingkan cabai merah dan bawang putih. “Harga daging masih ada potensi penurunan, ini yang kami coba jaga. Sedangkan cabai merah dan bawang putih masih tinggi,” tuturnya.

Potensi deflasi tampak dari penurunan harga daging sapi sebesar Rp 91.500 per kilogram,menjadi Rp 91.200 per kilogram. Penurunan ini menunjukkan kebutuhan pasokan yang mulai mencukupi, dan berusaha dijaga di Rp 70.000 hingga Rp 80.000 per kilogram.

“Kalau dua tahun lalu, harganya kan Rp 70 ribu per kilogram, ini yang coba kami atasi dengan operasi pangan ini. Mungkin di kisaran Rp 70.000 hingga Rp 80.000,” paparnya.

Mengenai besaran cadangan sapi yang akan ditentukan, Hatta menolak menjelaskan. Soal suplai Bulog, ia memerkirakan akan menyuplai sekitar 7 persen-10 persen dari kebutuhan pangan secara nasional. (Arif Wicaksono/Tribunnews)

MERUBAH PANDANGAN GENERASI MUDA TENTANG STIGMA KETERBELAKANGAN DUNIA PERTANIAN DI PROVINSI MALUKU

Oleh :

M.Isnaini Mahulauw,SP.MMA.

Staf Bakoorluh Provinsi Maluku

Generasi muda dapat diartikan bahwa orang yang berumur 15-30 tahun, kalau kita lihat penduduk di negara- negara berkembang di dunia sekitar 13,7%  diusia muda, hal tersebut menunjukan bahwa pemuda memiliki peranan yang penting dalam pembangunan bangsa karena generasi muda dianggap memiliki kekuatan dan memiliki motivasi dan etos kerja yang tinggi. Oleh arena itu kita perlu membangun dan mempertahankan karakteristik pemuda melalui 6C yaitu : pertama ; pemuda perlu meningkatkan Comvidence; kepercayaan  atas dirinya yang tinggi dan tidak boleh terpengaruh oleh hal-hal yang diluar kemampuannya,    Kedua ; pemuda harus memiliki Character  yang baik seperti jujur, bertanggungjawab, disiplin dan sifat keunggulan lainnya yang tidak merugikan orang lain, Ketiga; pemuda harus memiliki Competence baik didapat dari pendidikan formal maupun informal sehingga dapat mengembangkan jati dirinya sebagai pemuda yang berguna, Keempat; pemuda harus memiliki Connection,( jaringan, network bisnis, teknologi dan lainnya) yang dapat mempercepat karier,usaha dan lain-lain,  Kelima; Pemuda harus meiliki sifat kepedulian (Care), baik kepedulian bagi dirinya, bagi sesama, agama dan negara yang dia cintai, dan C yang  Keenam; pemuda harus memiliki Contribution yang positif bagi dirinya sendiri, keluarga dan masyarakat  serta lingkungan disekelilingnya.

Kenapa generasi muda sekarang ini enggang memasuki dunia pertanian? Karena pemuda menggap pertanian sebagai old fashion, pertanian tidak menjanjikan atau dapat dikatakan sesuatu yang ketinggalan zaman. Mereka memiliki sifat yang negatif karena  low return  pengembalian yang lambat. Dengan demikian untuk merubah pola fikir pemuda supaya pemuda tertarik dengan dunia pertanian dan tidak meninggalkan pedesaan maka kita harus bangun apa yang disebut dengan industrialisasi pedesaan (Rural Industrialization), misalnya; di Cina yang mampu mengerem laju urbanisasi dengan menggunakan Rural Industrialization di pedesaan. Entering Manufacturing Without The Rural Area. Atau prinsip yang dikembangkan dicina kendati meninggalkan pertanian namun tidak meninggalkan pedesaan. Oleh karena itu kita harus membuat pedesaan itu atraktif. Bagaimana supaya pedesaan itu atraktif, pertama ; Pedesaan harus memberikan pekerjaan dengan gaji yang Renumeratif ( Gaji yang layak), selain itu juga pemerintah mencanangkan program yang berpihak kepada rakyat seperti subsidi di bidang pertanian serta  memberikan kemudahan-kemudahan dalam mendapatkannya Saprodi dan Modal dalam membangun pertanian di provinsi maluku. Pemuda Desa juga harus kita anggap sebagai pekerja yang respectable yang dihormati dan produktif. Kedua ; Pedesaan harus ada invesment baik luar maupun domestik, ketiga ; infrastructure dimana kita lihat bahwa infrastruktur seperti; serana produksi pertanian, serana transportasi, energi, komunikasi, pendidikan dan sarana pendukung lainnya yang dirasakan masih kurang, Keempat ; Innovation dimana pemuda desa harus  memeiliki innovasi di bidang teknologi di bidang pertanian sehingga dapat dilibatkan dalam pengembangan teknologi informasi dibidang pertanian, Kelima; Industry,  Pembangunan industri yang memberikan Value added yang tinggi dan meminimalisir cost terkait dengan kebutuhan petani pedesaan berupa kemudakan dan memiliki nilai tambah dalam pengembangan pertanian dan sekaligus meningkatkan pendapatan /kesejahteraan petani. Keenam ; Institution, Salah satu cara untuk mengelola institusi yang baik dimana harus dipimpin oleh seorang manajer yang profesional dalam bidangnya, seperti contoh kelembagaan pertanian Taiwan ( Farmer Association) melakukan penggarapan berbagai saran produksi pertanian, mulai dari penyaluran pupuk, kredit, informasi dan sebagainya. Kelembagaan tersebut perlu memiliki Bargaining Position dengan petanii /kelompok dan merupakan sebuah solusi yang membuat sektor pertanian lebih moderen dan tidak terkesan kumuh, subsiten atau old fashion.

Kebijakan yang harus diambil oleh pemerintah :

Pertama ; Pemerintah harus memiliki langkah affirmative action yaitu langkah keberpihakan pemerintah terhadap pertanian dalam mengatasi kerawanan pangan dan kemiskinan, Kedua adalah ; Perlu adanya orkestrasi atau adanya convergence kebijakan yang baik antara pusat dengan daerah karena banyak sekali adaya instansi terkait yang berhubungan dengan pertanian belum menjadi link and math yang baik atau adaya egosektoral yang berdampak pada ketidak harmonisannya sistem pertanian/perikanan yang ada. Ketiga adalah Perlu menciptakan jiwa kewirausahaan /Intrepreneur yang selalu berpikir inovatif dan dapat memberikan nilai tambah baik raw material, pengolahan, pemasaran dll. Selain itu juga di perlukan agritechnopreneur yang diintrodusir kepada generasi muda yang melibatkan Dinas Pendidikan Nasional, dimana di provinsi lain sudah melakukan hal serupa dengan membukan pendidikan setingkat DIPLOMA di bidang komoditi unggulan tertentu seperti di Sumatera ada Diploma  khusus kelapa sawit. Diharapakan agar pemerintah Provinsi Maluku seyogyanya membuka DIPLOMA Perikanan (rumput laut, ikan kerapu dll),  Perkebunan (Pala, Kelapa, Cengkih dll) yang dapat menghasilkan sarjana muda yang profesional dalam bidangnya dan berpikir inovatif untuk memajukan daerah seribu pulau yang kita cintai ini

 

 

PENYUSUNAN PROGRAMA PENYULUHAN PROVINSI MALUKU TAHUN ANGGARAN 2012

Ambon – Dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (SP3K) mengamanatkan bahwa penyelenggaraan penyuluhan menjadi kewenangan dan tanggung jawab Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, dalam hal ini diwujudkan antara lain penyelenggaraan revitalisasi penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan berupa penataan kelembagaan, ketenagaan, penyelenggaraan sarana dan prasarana serta pembiayaan penyuluhan.

 

 

Agar revitalisasi penyuluhan berjalan secara efektif maka perlu dilakukan identifikasi sumberdaya dan program-program pembangunan bidang pertanian, perikanan dan kehutanan.  Programa penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan merupakan rencana yang disusun secara sistematis untuk memberi arah dan pedoman sebagai alat pengendali untuk pencapaian tujuan penyuluhan.  Programa penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan yang disusun setiap tahun membuat rencana penyuluhan tahun berikutnya dengan memperhatikan siklus anggaran pada masing-masing tingkatan dengan cakupan pengorganisasian, pengelolaan sumberdaya sebagai pelaksanaan penyuluhan.

 

Berkenaan dengan itu Basan Koordinasi Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan Provinsi Maluku melaksanakan kegiatan Penyusunan Programa Penyuluhan Provinsi akan dilaksanakan pada tanggal 1 Maret 2012 bertempat di Balai Pendidikan dan Pelatihan Perikanan Ambon. Kegiatan yang dilaksanakan ini bertujuan, menyediakan acuan dalam penyelenggaraan penyuluhan di tiap tingkatan; memberikan acuan bagi penyuluh pertanian, perikanan dan kehutanan dalam menyusun rencana kegiatan penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan; tersusunnya rencana kerja penyuluh secara sistematis.

 

Kegiatan yang bersumber pada dana DPA-SKPD Sekretariat Badan Koordinasi Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan Provinsi Maluku Tahun Anggaran 2012, ini bertempat pada BP3 Poka Ambon tanggal 1-2 Maret 2012.  Peserta Penyusunan Programa Penyuluhan Provinsi terdiri dari unsur SKPD terkait, perwakilan Kabupaten/Kota dan perwakilan Bakorluh Maluku dan sebagai pembicara: BAPPEDA Provinsi Maluku; Dinas Pertanian Provinsi Maluku;  Dinas Kehutanan Provinsi Maluku; Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Maluku. Ricky-Bakorluh Maluku

Pelaksanaan Kegiatan Penyuluhan dan Pendampingan Bakorluh Promal Tahun Anggaran 2011

Ambon – Meningkatnya minat masyarakat desa dalam hal pengelolaan hasil laut berupa rumput laut adalah salah satu usaha yang sangat mengembirakan bagi pemerintah daerah dalam hal pengembangan pembangunan sector perikanan di Provinsi Maluku. Olehnya itu melalui kegiatan penyuluhan dan pendampingan kelompok nelayan yang diprogramkan dari pemerintah daerah Maluku yang pelaksanaannya oleh Skretariat Badan Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan Provinsi Maluku Tahun Anggaran 2011. Kegiatan ini dilaksanakan melalui program Pengembangan sistem Penyuluhan Perikanan ini mencakup wilayah Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku Tengah, Seram Bagian Timur, Kepulauan Aru, Maluku Tenggara, Maluku Tenggara Barat dan Kota Tual dilaksanakan di beberapa Desa dan Kecamatan yang ada pada wilayah Kabupaten/Kota tersebut. Kegiatan penyuluhan dilaksanakan selama 8 terhitung bulan Mei s/d Desember dalam tahun 2011.

 

Dengan kegiatan yang diprogramkan oleh Bakorluh Provinsi Maluku tersebut bisa menjadi harapan bagi  peningkatan partisipasi masyarakat desa khususnya kelompok masyarakat yang mengelolah rumput laut yang ada di Provinsi Maluku. Diharapkan juga dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat desa dan memberikan kontribusi bagi Peningkatan Pendapatan Asli Daerah setempat khususnya sector Perikanan. Kegiatan ini juga bertujuan membangu, memperkuat dan mengembangkan kelembagaan masyarakat tani nelayan (pelaku utama) dan pelaku usaha Perikanan. Pendampingan dilakukan dengan melakukan kunjungan, bimbingan dan latihan sesuai dengan materi yang telah dijadwalkan. Metode penyampaian materi dalam rangka mengadakan bimbingan dan latihan dengan pola pendengaran, latihan dan praktek.

 

Hasil monitoring dijumpai adanya peningkatan pengetahuan dan perubahan sikap dalam pengelolaan rumput laut, yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan produksi dan pendapatan masyarakat tani serta peningktan pendapatan masyarakat sekitar.

 

Melalui kegiatan penyuluhan dan pendampingan kelompok nelayan yang diprogramkan dari Pemerintah Daerah Maluku yang pelaksanaannya oleh Bakorluh Provinsi Maluku Tahun Anggaran 2011 diharapkan berdampak pada pengembangan system budidaya rumput laut pada daerah potensial pengembngan budidaya di Maluku. Ricky-Bakorluh Maluku