TEKNIK INOKULASI GAHARU


Pengembangan pohon penghasil gaharu saat ini tak terlalu banyak dikenal oleh masyarakat luas. Hanya orang-orang tertentu saja yang sudah mengembangkan dan membudidayakan pohon ini. Bukan karena tidak adanya penelitian yang menunjukan betapa besarnya peluang pengembangannya, akan tetapi akibat lemahnya publikasi dan sosialisasi serta tindak lanjut terhadap hasil penelitian gaharu menyebabkan usaha pengembangannya sangat jauh tertinggal dibandingkan jebis pohon lainnya,misalnya pohon jati emas atau pohon jati super yang didengung-dengungkan akan memberikan nilai ekonomi yang cukup besar. Padahal, keuntungan dari bisnis pohon gaharu juga dapat merubah tingkat kesejahteraan masyarakat hanya dalam waktu beberapa tahun. Maka dalam upaya membina lestarinya sumberdaya pohon penghasil gaharu dan pembinaan kelestarian produksi, pengenalan teknologi budidaya dan inokulasi gaharu perlu disosialisasikan kepada masyarakat sehingga mereka dapat memposisikan diri untuk lebih mandiri dan mampu dalam mengembangkan sumberdaya gaharu tersebut. Mengapa perlu budidaya tanaman penghasil gaharu? 1. Melestarikan plasma nutfah dan produksi pohon penghasil gaharu, sebagai Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) bernilai ekonomi tinggi. 2. Membangun iklim simbiose mutualistis dan saling ketergantungan antara sumberdaya hutan dengan kehidupan masyarakat. 3. Meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar hutan, PAD dan devisa Negara.   Mengenal beberapa pohon penghasil “Gaharu” Aquilaria malacensis Lamk (Ahir, Gaharu, Garu, Halim, Karas, Kereh, Gambil, Sigi-sigi) - Morfologi Tinggi dapat mencapai 40 meter, diameter batang sekitar 60 cm, permukaan batang licin, warna batang keputih-putihan, kadang beralur, kayunya keras. Daun berbentuk lonjong agak memanjang, ujung meruncing, tepi daun tegak, agak bergelombang dan melengkung. Lebar 3-3,5 cm, panjang 6-8 cm, kedua permukaan licin dan mengkilap,tulang daun sekunder 12-16 pasang, jika mongering terlihat abu-abu kehijauan. Bunga muncul diujung ranting, dibawah ketiak daun. Mahkota bunga berbentuk lancip, panjang mahkota hingga 5 mm, berbau harum, berwarna hijau kekuningan atau putih. Buah berbentuk bulat telur atau agak lonjong, panjang sekitar 4 cm, lebar sekitar 2 cm, didalamnya terdapat 1-2 benih/biji atau lebih, bentuk biji bulat telur, warna coklat-kehitaman. IMG_0002 Aquilaria malacensis Lamk - Tempat tumbuh. Hutan dataran rendah, lereng-lereng bukiut sampai ketinggian 750 m dpl, hutan bertipe iklim A-B, kelembaban sekitar 80 %, suhu udara antara 24-32°C, curah hujan rata-rata 2000-4000 mm per tahun. - Penyebaran Tumbuh tersebar di daerah Sumatera Utara, Bangka, Sumatera Selatan dan Kalimantan.   IMG_0003 Aquilaria microcarpa Baill (Tengkaras, Engkaras, Garu, Tulang) - Tinggi pohon dapat mencapai 40 m dengan diameter mencapai 80 cm. - Tempat tumbuh sampai dengan ketinggian 200 m dpl. - Penyebaran di Palembang, Riau, Bangka Belitung.   IMG_0004 Aquilaria beccariana van Tiegh (Merkaras putih, Gaharu, Gumbil nyabak) - Tempat tumbuh dengan ketinggian mencapai 0-850 m dpl. - Penyebarannya banyak terdapat di Kalimantan dan Palembang.   IMG_0005 Aquilaria filarial Merr (Age-Sorong/Papua, Las-Seram/Maluku) - Tinggi pohon dapat mencapai 17 m dengan diameter mencapai 50 cm. - Tumbuh di dataran rendah, di rawa dengan ketinggian sampai dengan 130 m dpl - Penyebarannya paling banyak terdapat di Maluku dan Papua.   IMG_0006 Gyrinops versteegii (Ketenun-Lombok, Ruhu wama- Sumba, Seke-Flores dan Sumbawa) - Tinggi pohon dapat mencapai 40 m dengan diameter mencapai 80 cm. - Tempat tumbuh sampai dengan ketinggian mencapai 750 m dpl. - Penyebarannya di Lombok, Flores dan Sumbawa Perbanyakan Bibit. Perbanyakan bibit dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu generative (Biji dan Cabutan) dan vegetative (cangkok, stek pucuk dan stek batang). Gaharu mempunyai musim berbuah antara bulan Agustus-Desember. Teknik Inokulasi Inokulasi adalah memasukan bibit gubal gaharu atau cendawan atau mikroba de dalam batang atau akar agar merangsang dan mempercepat terbentuknya gubal gaharu. Proses inokulasi dapat dilakukan dengan cara (a) melukai bagian batang pohon, (b) menyuntikkan mikroorganisme jamur Fusarium, (c) menyuntikan oli dan gula merah, atau dengan (d) memasukan potongan gaharu ke dalam batang tanaman. Batas minimal suatu pohon dapat di inokulasi ditandai dengan pohon yang sudah mulai berbunga. Pohon tersebut biasanya berumur 4-7 tahun, dengan diameter minimal 10 cm. Inokulasi jika tidak dilakukan secara hati-hati dapat menyebabkan kematian pada tanaman gaharunya. IMG_0007 Adapun tahapan-tahapan teknik pengembangan Inokulan diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Pilih pohon gaharu alami yang sudah terinfeksi mikronba penyakit pembentuk gaharu. Ambil potongan cabang atau kupasan batang pohon gaharu terpilih. Potongan cabang atau kupasan batang ini disebut “Preparat”. 2. Bawa preparat tersebut ke Laboratorium dan upayakan agar suhu dan kelembabannya tetap terjaga dengan cara dimasukan dalam kotak es. Kembangkan spora dari preparat cabang dan atau batang tersebut di dalam media agar untuk diidentifikasi jenis mikrobanya sebagai biakan murni. 3. Selanjutnya kembangkan spora dan miselium biakan murni tersebut ke dalam media padat seperti serbuk gergaji pohon gaharu atau dalam media cair yang telah berisi unsur makro dan mikro sebagai energy hidup. 4. Masukkan media spora kedalam incubator pembiakan dan kondisikan suhu dan kelembaban incubator pembiakan tersebut pada keadaan optimal, yaitu suhu 24-32°C dan kelembaban 80%. Biarkan sekitar 1-2 bulan. 5. Tempatkan spora yang sudah dibiakkan tersebut kedalam wadah berupa botol kaca, botol plastik atau botol infuse bekas. 6. Simpan botol dalam freezer incubator. Inokulan ini sudah siap diinokulasikan ke tanaman gaharu. Teknik inokulasi dengn inokulan terhadap pohon gaharu berbeda beda sesuai dengan bentuk inokulannya. Persiapaan Inokulasi 1. Pengadaan perlengkapan lapangan berupa bor listrik dengan mata bor berukuran 0,3-1,0 cm yang dapat dan mudah dibawa, glenset, blender, alat suntik, spidol, alat ukur, alcohol, corong serta lilin/malam untuk menutup lubang bor dll. 2. Mengukur jarak lubang satu dengan yang lainnya adalah 10 cm vertical dan jarak horisontalnya 1/3 diameter pohon. 3. Pengadaan Inokulan yang cukup dengan asal isolate penyakit dari daerah setempat atau yang sesuai dan cocok. 4. Penetapan jenis, penomoran pohon dan regristrasi/catat jumlah pohon yang akan diinokulasi. Pelaksanaan Inokulasi/Penyuntikan 1. Batang yang akan disuntikkan diukur terlebih dahulu dan diberi tanda dengan spidol. Jarak lubang pertama adalah 20 cm dari permukaan tanah. 2. Jarak antar satu lobang ke lubang lainnya adalah 10 cm vertical dan jarak horisontalnya sekitar 1/3 diameter batangnya. 3. Tangan, mata bor dan lubang bor disterilkan dengan alcohol. 4. Lubang bor dibuat di setiap 1/3 lingkaran pohon, setiap pemboran satu lubang selesai segera mata bor disterilkan dengan kapas atau kain lap yang telah dibasahi dengan alcohol. 5. Arah lubang miring sekitar 30° kearah tanah. 6. Kedalaman bor adalah 1/3 diameter pohon. Jadi seandainya diameter pohonnya 10 cm maka kedalamn bornya sekitar 2-3 cm. Jika terlalu dalam lubang bornya maka dapat menyebabkan kematian pada tanaman. 7. Bibit gubal gaharu dimasukan ke dalam lubang dan jangan sempat lubang menjadi kering. 8. Bibit gubal dimasukan sampai lubang penuh. 9. Lubang yang telah terisi bibit gubal segera ditutup dengan lilin lunak atau glutek. Usahakan agar air hujan tidak masuk ke lubang tersebut. Sekali sebulan penutup lubang perlu di control agar tak ada kerusakan atau kebocoran. IMG_0008 Evaluasi Pasca Pelaksanaan Penyuntikan Untuk mengetahui keberhasilan penyuntikan, maka diperlukan evaluasi setelah 1 sampai 3 bulan dengan cara sebagai berikut: IMG_0009 1. Pilih secara acak 3 pohon gaharu yang telah disuntik. 2. Tepat diatas atau dibawah tempat penyuntikan dibor lagi. 3. Kayu hasil pengeboran diperiksa perubahan warnanya. Bila warna kayu menjadi coklat, dan bila dibakar berbau wangi maka ini tandanya inokulasi/penyuntikan berhasil. 4. Bila hasil pengeboran berwarna putih, dan bila dibakar tidak ada mengeluarkan aroma harum tandanya penyuntikan tidak berhasil. 5. Bila belum berhasil, dievaluasi lagi setelah 3 bulan kemudian. Bila pada saat itu juga belum berhasil maka harus disuntik ulang. Teknik Pemanenan Produksi gubal gaharu mulai terbentuk setelah 1-3 bulan penyuntikan dengan tanda-tanda pohon tampak meraana, dedaunan menguning dan rontok, kulit batang rapuh, jaringan kayu berwarna coklat tua dan mengeras, dan jika dibakar akan mengeluarkan aroma khas mirip kemenyaan. Gaharu dapat dipanen 2-4 tahun kemudian. Jumlah produksi gubal gaharu dapat beragam tergantung kualitas produknya dengan rata-rata 2 kg per pohon. IMG_0011 Pemanenan secara total dilaksanakan dengan cara penebangan dan menggali akarnya karena secara fisik pohon penghasil gaharu tersebut sudah mati atau terinfeksi karena telah terbentuk gaharu pada batang pohon tersebut. (J3LP)