Bakorluh Maluku - Pertanian Bakorluh Maluku - Perikanan Bakorluh Maluku - Kehutanan

Entrecoccus faecium sebagai Probiotik Potensial

E. Faecium dapat tumbuh pada kisaran suhu yang luas, karena ikan dan udang berkembang pada suhu dan kondisi yang berbeda.

Bakteri Enterococcus faecum

Bakteri Enterococcus faecum

Perkembangan industry budidaya perikanan (aquaculture) yang sangat cepat, membuat industry ikan dan udang berada  dibawah ancaman merebaknya penyakit infeksi.  Anggota bakteri genus vibrio dan aeromonas telah dikenal sebagai pathogen paling umum pada ikan dan udang yang dapat menyebabkan kerugian serius pada fase larva dan pertumbuhan.

Penggunaan antibotik untuk mengontrol agen penyakit ini telah memicu masalah resistensi obat dan pembatasan perdagangan pada pasar ekspor.  Berbagai strategi alternative yang bertindak sebagai komponen anti microbial, yaitu penggunaan bakteri pencegah (probiotik) telah dimunculkan untuk meningkatkan kesehatan performa zooteknik seperti daya tahan hidup, produksi, konversi pakan, dan pertumbuhan dari kultur spesies perikanan.

Bakteri  probiotik merupakan pendekatan yang sesuai untuk memodulasi mikroflora usus melalui komposisi yang menguntungkan, hal ini menjadi sangat penting karena system pencernaan dari ikan dan udang merupakan pintu masuk utama dari infeksi.  Oleh sebab itu, kriteria seleksi dari probiotik untuk aquaculture harus didasarkan pada antagonismenya terhadap pathogen (melalui mekanisme kompetitif), perlekatannya pada usus dan produksi komponen-komponen yang bermanfaat (Vine et al, 2004).

Hal ini karena ikan dan udang di kultur pada kondisi yang berbeda, suhu optimum juga harus dipertimbangkan pada seleksi probiotik yang tepat.  Faktor penting lainnya adalah bahwa probiotk tersebut tidak berbahaya.  Selanjutnya, probiotik seharusnya dapat menambah efisiensi produksi, meningkatkan kesehatan dan menguatkan hewan (Brittain et al, 2002).

Probiotik Potensial

Bakteri Asal Laktat (LAB) merupakan kandidat probiotik yang potensial di aquaculture dan juga ditemukan pada usus ikan yang sehat.  Enterococcus faecium adalah salahsatu bakteri asam laktat yang paling sering digunakan sebagai nutrisi bagi hewan dan menjadi focus perhatian untuk digunakan pada spesies perikanan.

Enterecoccus merupakan bakteri gram positif, anaerob fakultatif yang tersebar secara luas di alam dan diyakini sebagai bakteri yang paling tidak berbahaya (Klare et al, 2003).  Infeksi yang ditimbulkan dari penggunaan probiotik Enterococcus tidak pernah ditemukan pada ilmu medis veteriner, maka dari itu risiko yang mungkin muncul dari penggunaannya sangatlah kecil.

Eaton dan Gasson (2001) menemukan bahwa strain E, faecium secara umum bebas dari faktor virulensi.  Dengan mempertimbangkan kemungkinan terjadinya resistensi antibiotic, pengujian profil antibiotic dai Enterococcus yang digunakan sebagai probiotik sangatlah relevan.  Namun, resistensi antibiotik  tersebut biasanya spesifik pada spesifik pada spesies maupun genus tertentu (Klare et al, 2003).  Jika probiotik Enterococcus telah teridentifikasi dengan akurat, maka dapat diuji resistensi spesifiknya.

Beberapa mekanisme penting probiotik dalam memproduksi asam laktat (misalnya E. faecium) dapat menunjukkan manfaat bagi performa dalam meningkatkan keseimbangan mikroba usus (Fuller , 1989), menstimulasi sistem imun, serta mengurangi pH dengan cara pelepasan bacteriosin (Rolfe, 2000).  Bakteriosin adalah peptide kecil yang dikenali dari kemampuannya untuk menghambat bakteri pathogen, beberapa jenis diantaranya memiliki spectrum aktivitas yang sempit dan lainnya mampu menghambat spectrum bakteri yang lebih luas.

Penelitian Enterococcus

Kajian invitro dengan menggunakan metode spot agar (Rosskopf, 2010) telah menunjukkan bahwa Enterococcus faecium (strain IMB 52) memiliki kemampuan penghambatan terhadap spesies pathogen yang luas.  Spesies pathogen tersebut meliputi Yersina ruckeri, Vibrio harveyi, Streptococcus agalactiae, dan Aeromonas veronii.

Sebuah penelitian yang sama yang dilakukan oleh Swan et al (2009) yang membuktikan aktivitas penghambat dari E. faecium yang diisolasi dari ikan di perairan Brackwish terhadap v. harveyi dan v.parahaemolyticus.  Penelitian ini menunjukkan potensi aplikasi dari E.faecium yang berasal dari usus ikan untuk mengontrol agen vibriosis pada budidaya udang.

Selain itu juga telah dilaporkan daya tahan hiup dari belut di eropa (Anguila Anguila L.) yang diberi tambahan pakan dengan E. Faecium lebih mampu bertahan hidup, daripada kelompok control yang tidak diberi E. Faecium setelah ditantang dengan Edward siellatarda (Chang and Liu, 2002).  Wang et al (2008) juga meneliti tentang penambahan E. faecium (1 x 107 CFU/ml) pada air akuarium dapat meningkatkan berat akhir dan pencapaian berat harian dari tilapia secara signifikan.

Hal ini disebabkan karena ada beberapa parameter kekebalan tilapia (myeloperoxidase dan  aktivitas bursti respirasinya) yang meningkat.  Peningkatan performa pertumbuhan kemungkinan disebabkan karena berkurangnya bakteri berbahaya, yang diperoleh dari manfaat innate immunity yang non spesifik pada ikan jenis ini.

Panigrahi et al (2007) meneliti modul asli imun yang melibatkan ekspresi gen cytokine pada ikan rainbow trout (Onocorhyncusmykiss) dan menunjukkan bahwa parameter ini meningkat oleh adanya pemberian pakan sediaan keringbeku probiotik Lactobacillus rhamnosus, Enterococcus faecium atau Bacillus subtilis (109 CFU/g) selama 45 hari.  Khususnya ikan yang diberi pkan Enterococcus faecium menunjukkan performa yang lebih baik yang dihubungkan dengan kondisi suhu yang sesuai untuk perkembangan strain ini.

Keunggulan

Suhu merupakan faktor lingkungan utama yang mengontrol pertumbuhan mikroba dan kondisi idealnya berbeda-beda diantara masing-masing mikroorganisme.  Bakteri E. faecium diketahui lebih psycho toleran disbanding yang diberi dua jenis bakteri yang lainnya yang dapat tumbuh dengan baik pada kisaran  suhu 12 hingga 300C.

Dengan menggunakan teknik Fluorescence In Situ Hybridization (FISH), Supamattaya et al (2005, 2006) telah menunjukkan dalam rangkaian peneltian in vivo-nya bahwa E. faecium juga memiliki kemampuan untuk hidup di usus udang (Litopennaeusvannamei) dan nila tapia (Oreochromisniloticus) serta menginduksi pengaruh positif lingkungan bakteri usus dengan cara menghambat Vibrio spp melalui mekanisme kompetitif.

E. Faecium bahkan maish ditemukan pada usus dan kotoran ikan setelah 10 hari dari pemberian produk tersebut.  Sebagai tambahan, telah dilakukan pengamatan pada aplikasi E. Faecium dalam diet secara terpisah maupun dikombinasikan dapat meningkatkan performa usus, meningkatkan respon imun (dengan cara peningkatan tingkat (hemocy granular ) (Supamattaya et al, 2005) dan daya tahan hidup pada udang yang terkontaminasi Vibrio parahaemolyticus  (Krummenauer et al, 2009).

Dari penelitian-peelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa Enterococcus faecium (strain IMB 52) adalah kandidat probiotik yang menjanjikan untuk spesies perikanan yang dapat diaplikasikan dengan kombinasi yang berbeda-beda.  Untuk menahan kepadatan produksi ikan dan udang, probiotik merupakan imbuhan pakan paling menjanjikan untuk menstimulasi pertumbuhan dan pertahanan penyakit E. Faecium dapat tumbuh pada kisaran suhu yang luas dan hal tersebut merupakan keunggulan dari jenis bakteri lain, karena ikan dan udang berkembang pada suhu dan kondisi yang berbeda-beda.

Oleh: Salman Haris Fuadi (Technical Officer PT Blomin Indonesia) dalam Majalah Trobos Aqua

 Edisi 07 Tahun I

 Diposting Oleh : Yudhistira

 

 

Leave a Reply