Bakorluh Maluku - Pertanian Bakorluh Maluku - Perikanan Bakorluh Maluku - Kehutanan

POTENSI PERIKANAN MALUKU

Oleh  :

Ricky Berhitu, S.Pi

(Penyuluh Bakorluh Maluku)

Pendahuluan

Wilayah Maluku memiliki potensi sumber daya Maluku  yang sangat kaya, seperti perikanan dengan potensi yang tersebar serta pariwisata bahari yang diakui dunia dengan keberadaan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi (natural biodiversity).

Peran strategi Perikanan dan Kelautan di provinsi Maluku sampai saat ini masih merupakan bagian yang terpenting karena dapat memacu sekaligus memicu pertumbuhan perekonomian di Daerah, penciptaan lapangan kerja, pengurangan kemiskinan dan pelestarian lingkungan.

Pembangunan Perikanan yang terus dipacu perkembangannya baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah provinsi Maluku serta didukung oleh partisipasi masyarakat selaku pelaku utama bahkan pelaku usaha yang setiap saat dapat membantu baik petani maupun nelayan dalam kaitan dengan pemasaran hasil. Di provinsi Maluku juga terjadi peningkatan produktivitas baik untuk komoditas starategis mendukung ketahanan pangan nasional maupun daerah.

Disamping itu dengan bergeliatnya dinamika pembangunan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan di daerah juga turut mendukung penyerapan tenaga kerja di pedesaan. Secara nasional kemampuan penyerapan tenaga kerja disektor Perikanan cukup besar dibandingkan dengan sektor lain. Provinsi Maluku dengan kondisi wilayah laut – pulau (pulau besar dan kecil), maka konsep pengembangan pembangunan Perikanan dan Kelautan juga harus memperhatikan hal tersebut yang tentunya akan berpengaruh terhadap kebijakan pembangunan Perikanan dan Kelautan kedepan. Peran inovasi teknologi sangat berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas komoditas di Maluku dan hal ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan kebijakan pembangunan Perikanan dan Kelautan secara nasional kedepan yaitu menuju Perikanan industrial unggul berkelanjutan yang berbasis sumberdaya lokal untuk meningkatkan kemandirian pangan, nilai tambah, daya saing eksport dan kesejahteran nelayan khususnya pengembangan penyuluhan.

Keadaan Geografis

Secara geografis, Provinsi Maluku berbatasan dengan Provinsi Maluku Utara di bagian Utara, Provinsi Papua Barat di bagian Timur, Negara Timor Leste dan Negara Australia di bagian Selatan, serta Provinsi Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah di bagian Barat. Sedangkan secara astronomi, Provinsi Maluku terletak antara 2030’ – 8030’ LS dan 1240 – 135030’ BT.

Sebagai daerah kepulauan, Provinsi Maluku memiliki luas wilayah 581.376 Km2, terdiri dari sekitar 527.191 Km2 (90,5%) lautan dan 54.185 Km2 (6,5%) daratan dengan jumlah pulau yang mencapai 1.340 buah pulau dan panjang garis pantai 10.630,10 Km. Sejak tahun 2008, Provinsi Maluku terdiri atas 9 kabupaten dan 2 kota, 73 Kecamatan dan 906 Desa/Kelurahan dengan Kota Ambon sebagai ibukota Provinsi Maluku. Pulau-pulau besar hanya 4 (empat) yaitu P. Seram (18.625 km2), P. Buru (9.000 km2), P. Yamdena (5.085 km2) dan P. Wetar (3.624 km2). Sedangkan panjang garis pantai di Provinsi Maluku mencapai 10.630,1 km.

Keadaan Iklim

Iklim di Wilayah Kepulauan Maluku dipengaruhi oleh iklim tropis dan iklim musim, yang disebabkan oleh kondisi Kepulauan Maluku yang terdiri dari pulau-pulau dan dikelilingi oleh lautan. Berdasarkan data klimatologi hasil pencatatan  Stasiun Meteorologi dan Geofisika  di Provinsi Maluku, maka suhu rata-rata di Provinsi Maluku kira-kira tiap tahun adalah 26,70C dengan curah hujan rata-rata 264,4 mm.

 Potensi produksi Perikanan dan Kelautan

Kepulauan Maluku terdiri dari 3 Wilayah Pengelolaan Perikanan yaitu meliputi daerah-daerah sebagai berikut:

  1. Wilayah Pengelolaan Perikanan Laut Banda
  2. Wilayah Pengelolaan Laut Seram dan sekitarnya
  3. Wilayah Pengelolaan Laut Arafura

a.      Potensi Perairan Umum

Potensi Perairan umum untuk kegiatan penangkapan maupun budidaya diperkirakan sebesar 1.900 Ha. Tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan di perairan umum baru mencapai 13,4 ton sehingga peluang yang masih tersedia masih cukup besar. Pembangunan budidaya perikanan mempunyai peluang yang sangat besar dilihat dari lingkungan strategis dan potensi sumberdaya yang tersedia. Lahan penyebarannya di perairan pulau Seram, Manipa, Buru, Kei Kecil, Kei Besar, Yamdena, Pulau-pulau Terselatan dan Wetar. Khusus untuk kegiatan budidaya di laut yang dikembangkan secara komersial adalah kerang Mutiara, kerapu dan rumput laut. Lahan untuk pengembangan air payau (tambak) seluas 191.450 Ha yang dapat dikembang u ntuk budidaya udang windu dan bandeng.

b.     Potensi Perikanan tangkap

Potensi tersebut meliputi potensi Perikanan tangkap, budidaya serta potensi yang terdapat pada wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Potensi Perikanan tangkap sebesar 1,64 juta Ton, dengan jumlah tangkap yang diperbolehkan (JTB) sebesar 1,3 juta ton per tahun. Potensi sumberdaya perikanan tangkap tersebut terdiri dari:

1. Ikan Pelagis Besar                    : 261.490
2. Ikan Pelagis Kecil                      : 980.100
3. Ikan Demersal                           : 295.500
4. Ikan Karang Konsumsi              : 47.700
5. Udang Paneid                           : 44.000
6. Lobster                                      : 800
7. Cumi-cumi                                :10.570

 

Yang tersebar di laut Maluku dan sekitarnya dengan sediaan potensi sebanyak 587.000 ton dan potensi lestari 469.000 ton per tahun, Laut Banda dengan sediaan potensi sebanyak 248.400 ton dan potensi lestari 198.000 dan laut Arafura dengan sediaan potensi sebanyak 792.100 potensi lestari 633.600 ton per tahun. Dari keseluruhan potensi sumberdaya perikanan tangkap, tingkat pemanfaatan (produksi) pada tahun 2010 sebesar 402.644,41 ton atau 31 % dari potensi lestari.

c.         Potensi Perikanan Budidaya

Budidaya laut dan budidaya perairan payau, adalah potensi utama budidaya perikanan di Maluku. Selain kedua jenis budidaya tersebut budidaya air tawar adalah jenis budidaya lain, yang juga dilaksanakan dalam kegiatan budidaya perikanan di Maluku, tetapi dalam luasan yang masih terbatas.

Potensi areal budidaya pada Air laut di Maluku cukup besar yaitu 494.400 Ha dan yang telah dimanfaatkan: 9.432,2 Ha. Potensi ini tersebar terutama di perairan laut Seram, Manipa, Buru, Kei Kecil, Kei besar, Yamdena, dan Wetar diperkirakan sebesar 495.3000 Ha. Untuk budidaya laut, kegiatan yang telah dikembangkan secara komersial antara lain budidaya rumput laut, ikan kerapu dan kerang mutiara.

NO

JENIS BUDIDAYA

LUAS AREAL

1.

Kakap putih tersedia seluas

31.000 Ha

2.

Kerapu tersedia seluas

104.000  Ha

3.

Rumput Laut tersedia seluas

206.000 Ha

4.

Tiram Mutiara tersedia seluas

73.400 Ha

5.

Teripang tersedia seluas

28.900 Ha

6.

Lobster tersedia seluas

23.000 Ha

7.

Kerang-kerangan seluas

29.000 Ha

Sementara untuk budidaya air payau luas areal budidaya: 191.150 Ha dengan areal pemanfaatan 3.695,95 Ha danpada air tawar Luas Areal 36.251 Ha dengan areal pemanfaatan 234,6 Ha yang terdiri dari Kolam (7.600 Ha), Sungai (3.750 Ha), Rawa (262,5 Ha), dan Danau (60 Ha), atau dengan tingkat pemanfaatan samapi tahun 2010 baru sebesar 1.85% atau 13.362,75 Ha.

Pengembangan secara komersial pada komoditi udang windu dengan daerah pengembangan terutama di pulau Seram dan pulau Buru, hingga tahun 2009 luas lahan/perairan yang telah dimanfaatkan sebesar 10.278,1 Ha atau hanya 2,1% dari potensi, dan budidaya ikan bandeng yang baru 62 Ha.

Luas lahan yang dapat dikembangkan untuk budidaya air tawar diperkirakan mencapai 36.251 Ha dengan luas efektifitasnya sebesar 11.700 Ha yang terdiri dari:

NO

AREAL

LUAS

1.

Kolam

7.600  Ha

2.

Sungai

3.750  Ha

3.

Saluran Irigasi teknis

-

4.

Sawah Irigasi Teknis

-

5.

Situ / Rawa / Embung

262,5 Ha

6.

Waduk

27,5 Ha

7.

Danau

60 Ha

Dari luas lahan tersebut diatas yang baru dikelola mencapai 118,40 Ha dengan total produksinya sebesar 59,70 ton. Dengan demikian prospek pengembangan budidaya sangat besar, untuk usaha budidaya air Tawar di Pulau Seram dan Pulau Buru.

Sedangkan  potensi lahan budidaya rumput laut mencapai 19.509,29 hektar. Namun besar lahan yang baru termanfaatkan hanya sebesar untuk Seram Bagian Barat  929,9 hektar, Kabupaten Seram Bagian Timur 140 hektar dan kabupaten kepulauan aru 1.587 hektar.

Selain potensi budidaya ikan perairan Maluku juga terdapat potensi pengembangan rumput laut sangat besar. Total potensi lahan budidaya rumput laut mencapai 19.509,29 Ha, namun besar lahan yang baru termanfaatkan hanya sebesar 929,9 Ha untuk Kab. Seran Bagian Barat; 104 Ha untuk kab. Seram Bagian Timur dan Kab. Kep. Aru sebesar 1.587 Ha.

 

Produksi Rumput Laut Eucheuma cottonii  di Kabupaten Seram Bagian Barat,Kabupaten Seram Bagian Timur dan Kabupaten Kepulauan Aru untuk kebutuhan eksport masih dalam bentuk bahan mentah yaitu berupa rumput laut kering. Untuk produk olahan masih bersifat tradisional untuk konsumsi rumah tangga berupa manisan, es cendol, puding, dan dodol rumput laut dan sebagainya. Perkembangan hasil produksi per tahun adalah sebagai berikut :

  • Tahun 2007
    • Total produksi            : 16.875,1 ton

o   Areal budidaya           :  400 Ha

  • Tahun 2008

o   Total produksi            : 36.281,456 ton

o   Areal budidaya           :  525 Ha

  • Tahun 2009
    • Produksi                    : 50.543 ton
    • Areal budidaya          : 600 Ha

Untuk budidaya rumput laut adalah komoditi unggulan yang saat ini mulai dikembangkan secara luas di Propinsi Maluku, yang dikembangkan pada 6 (enam) klaster terpisah.

d.      Pasca Panen Perikanan

Pengembangan pasca panen di Maluku selama ini belum terlaksana sesuai harapan karena produksi Perikanan Maluku yang lebih memiliki daya saing adalah ikan segar dan ikan beku. Selama tahun 2009 dari 397.542,2 ton produksi ikan yang dihasilkan, 150.865,2 ton dibekukan dan 77.530,7 ton dikomsumsi segar dan 101.401 ton dikeringkan/digaramkan, 12.268,2 ton diasapkan serta sisanya mengalami perlakuan lain yang spesifik local. Daerah yang menjadi sentra produk olahan perikanan adalah Desa Galala, Desa Waisili dan Desa Waplau. Untuk Kabupaten Seram Bagian Timur pusat pengembangan terpusat di Geser, Kab. Maluku Tengah di Banda dan Saparua, Kab. Maluku Tenggara di desa-desa Kei Kecil, Kab. Kepulauan Aru bertempat pada pesisir Timur Kep. Aru dan Maluku Tenggara Barat adalah Sera dan Luang.

e.      Potensi Pesisir dan Pulau Kecil

Pulau-pulau  kecil di Propinsi Maluku yang berjumlah sekitar 1.082 pulau, memiliki sumberdaya alam yang tinggi. Mangrove, lamun dan terumbu karang adalah sumberdaya pesisir penting. Wilayah Maluku luas ekosistem mangrove seluas 1.322,91 Km2, terumbu karang 1.323,33 Km2 dan lamun 393,08 Km2, (Bakosurtanal, 2007).

Selain dikelilingi oleh ketiga ekosistem utama di atas, sebagian besar dari pilau-pulau kecil ini juga dikelilingi hamparan pasir putih, dengan luas total untuk wilayah Provinsi Maluku seluas 1.728,59 Km2. Potensi luasan tersebut saat ini belum dikelola secara maksimal, terutama dalam hubungannya dengan pariwisata bahari. Kondisi lainnya pada sebagian besar pulau-pulau kecil ini adalah, terbatasnya infrastruktur pendukung kegiatan ekonomi. Hal ini menyebabkan pulau-pulau kecil ini menjadi, wilayah dengan tingkat aksesibilitas yang rendah dan menjadi terbelakang.

f.       Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan

Sumberdaya ikan adalah potensi utama sumberdaya kelautan dan perikanan, yang menjadi rpimadona sumberdaya kelautan dan Perikanan Indonesia. Mempertahankan dan atau menjaga mutu ikan sebagai hasil tangkapan, ikan sering harus mengalami perlakuan pengolahan tertentu. Beberapa perlakuan pengolahan seperti pembekuan, pengasapan dan cara penanganan tertentu untuk beberapa produk segar, adalah bentuk pengolahan dan penenganan yang dominan di laksanakan di Maluku.

Penutup

Produk Perikanan di Maluku umumnya dalam bentuk produk primer dan merupakan penyedia bahan baku, sehingga peluang pengembangan usaha industry pengolahan dan industry terkait lainnya masih terbuka luas dan merupakan peluang investasi yang sangat menarik. Untuk dapat memanfaatkan dan kelautan yang ada perlu ada perlu diadakan kajian yang tepat karena kajian tentang sumberdaya masih terbatas sementara kebutuhan akan sumberdaya hayati laut di dalam dan luar negeri semakin meningkat, disisi lain besarnya potensi sumberdaya ini sekaligus menjadi tantangan bagi masyarakat di Provinsi Maluku untuk mengelola sumberdaya yang ada secara benar

Leave a Reply