Bakorluh Maluku - Pertanian Bakorluh Maluku - Perikanan Bakorluh Maluku - Kehutanan

BIOGAS, SUMBER ENERGI ALTERNATIF DENGAN PEMANFAATAN LIMBAH TERNAK

Oleh :

E. LATUPEIRISSA, S.Pt

(Penyuluh Peternakan P2K Maluku)

 Biogas merupakan energi alternatif, energi ini punya masa depan cerah. Sejauh ini pemanfaatan kotoran ternak menjadi biogas belum sepopuler dibandingkan pemanfaatannya  sebagai bahan baku pupuk organik. Padahal dengan teknologi biogas, kotoran ternak dapat dikonversi menjadi energi yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi untuk  berbagai kebutuhan misalnya memasak, lampu penerangan, transportasi hingga keperluan lain yang memerlukan energi.

Dalam Era yang penuh krisis energi terutama yang terkait masalah BBM dimana akibat dampak krisis tersebut sangat dirasakan memberatkan bagi sebagian golongan masyarakat terutama yang berada di daerah daerah yang terpencil di wilayah kepulauan, akibatnya sangat berdampak sekali terhadap pertumbuhan dan kehidupan ekonomi masyarakat di daerah daerah tersebut

Biogas adalah campuran gas yang dihasilkan oleh bakteri metanogenik yang terjadi pada material-material yang dapat terurai secara alami dalam kondisi anaerobik.  Pada umumnya biogas terdiri atas gas metan (CH4) sebesar 50-70%, gas karbon dioksida (CO2) sebesar 30-40%, Hidrogen 5 – 10% dan gas-gas lainnya dalam jumlah yang sedikit.  Gas bio merupakan gas yang dihasilkan dari proses fermentasi tertutup bahan-bahan organik termasuk Kotoran Ternak.

Potensi Produksi Biogas

  1. Data:

Berdasarkan Tabel disamping bahwa satu ekor sapi pedaging menghasilkan kotoran 28 kg/hari berat basah (5,6 kg/hari berat kering).  Produksi biogas yang dihasilkan oleh ternak sapi adalah 0,25 m3/kg berat kering2.

2. Perhitungan:

  • 1 ekor sapi menghasilkan biogas = 5,6 kg berat kering/hari x 0,25 m3/kg berat kering = 1,4 m3/hari
  • 6 ekor sapi menghasilkan biogas = 6 x 1,4 m3/hari = 8,4 m3/hari
  • Produksi biogas yang dihasilkan oleh seekor sapi selama masa retention time adalah sebesar 1,4 m3/hari x 30 hari = 42 m3.
  • Jadi produksi biogas yang dihasilkan oleh 6 ekor sapi selama retention time = 8,4 m3/hari x 30 hari = 252 m3.
  • Kandungan 1 m3  setara dengan : 1). Minyak tanah 0,60 liter, 2). Elpiji 0,45 kg, 3).Kayu bakar 3,5 kg
  • Kotoran tersebut dapat langsung digunakan untuk menghasilkan gas bio dan kemudian limbah padatnya masih dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

No

Jenis Ternak

Produksi Tinja

(Kg/ekor/hari)

Produksi Biogas

(m3/kg berat kering)

1

Sapi Pedaging

28

0,25

2

Kerbau

            28 – 35

0,25

3

Kambing/Domba

1,13

0,25

4

Ayam

  0,18

0,60

5

Babi

  3,41

0,44

Syarat Lokasi Pembangunan Unit Biogas

  • Jangan menggali tanah untuk membuat sumur digester, dalam radius 20 meter dari sumur air yang di digunakan untuk air minum
  • Lokasi sebaiknya sedekat mungkin dengan lokasi peternakan, sehingga tidak ada waktu dan energi yang terbuang untuk transportasi kotoran sapi nya. Dan kembali diingatkan disini bahwa semakin segar kotoran sapinya maka semakin banyak produksi biogas yang akan di peroleh.
  • Sedapat mungkin kotoran sapi yang dikumpulkan selalu berada di ruang tertutup, atau ditutup agar tidak terjadi pembusukan aerobic, sebelum kotoran sapi tersebut dijadikan slurry yang kemudian di masukan kedalam sumur digester
  • Pilihlah tempat yang terbuka, tembus sinar matahari, karena digester akan bekerja lebih sempurna jika mendapatkan panas yang memadai (sekitar 35 derajat). Sedapat mungkin digester bisa terkena sinar matahari sepanjang hari

 

MODEL  INSTALASI BIOGAS SEDERHANA

Untuk Unit pengolahan biogas skala kecil/skala rumah tangga.

Volume digester biogas : 5 – 10 m3.  Bahan digester : Fiber glass UCALAK Tipe 235 atau plastik PP dengan ketebalan minimum  250 mikron yang didesain khusus sebagai digester biogas, atau konstruksi semen.

Gambar Instalasi Sederhana Biogas

Cara Pengoperasian Unit Pengolahan (Digester) Biogas Skala Kecil

 

1.    Buat campuran kotoran ternak dan air dengan perbandingan 1 : 1 (bahan biogas).  panduan dasar, campuran yang baik berkisar antara 7% – 9% bahan padat dan disaring dari sampah sampah atau kotoran lain dari kandang selain kotoran ternak, misalnya serpihan kayu, akar, daun keras, sisa batang rumput atau kotoran lainnya yang kebanyakan berupa sisa-sisa pakan ternak yang terlalu kasar.

2.    Masukkan bahan biogas ke dalam digester melalui lubang pengisian (inlet) sebanyak 3/4 bagian, selanjutnya akan berlangsung proses produksi biogas di dalam digester.  Volume sisa di bagian atas tangki utama diperlukan sebagai ruang pengumpulan gas serta menghindari penyumbatan saluran gas oleh slurry

3.    Setelah kurang lebih 10 hari biogas yang terbentuk di dalam digester sudah cukup banyak. Biogas sudah dapat digunakan sebagai bahan bakar, kompor biogas dapat dioperasikan.

4.    Pengisian bahan biogas selanjutnya dapat dilakukan setiap hari, yaitu sebanyak kurang lebih 20 liter setiap pagi dan sore hari. Sisa pengolahan bahan biogas berupa sludge secara otomatis akan keluar dari lubang pengeluaran (outlet) setiap kali dilakukan pengisian bahan biogas. Sisa hasil pengolahan bahan biogas tersebut dapat digunakan sebagai pupuk kandang/pupuk organik, baik dalam keadaan basah maupun kering.

Prospek Biogas di Masa Depan

Bila biogas telah diaplikasikan secara luas, persoalan kekurangan pasokan atau krisis energi bisa dihindari, dan masalah pencemaran lingkungan oleh kotoran ternak pun bisa teratasi.  Di samping itu, dari proses produksi biogas akan dihasilkan sisa kotoran ternak yang dapat langsung dipergunakan sebagai pupuk organik pada tanaman/budidaya pertanian

Jika kita mengintip negeri maju, seperti Kanada, Pemerintah daerah bahkan mendukung pembangkitan energi listrik berbasis biogas di suatu peternakan besar, di provinsi Ontario. Pada peternakan susu sapi Laurie Stanton’s, yang memiliki 750 ekor sapi. Hal ini akan dapat menangani problem dalam skala 50 juta ton biomassa atau residu (limbah) dari tanaman dan binatang di provinsi itu, setiap tahunnya. Listrik yang dihasilkan sekitar 1.3 Megawatt listrik, cukup untuk melistriki 800 rumah tinggal.

Syarat Lokasi Pembangunan Unit Biogas

  • Jangan menggali tanah untuk membuat sumur digester, dalam radius 20 meter dari sumur air yang di digunakan untuk air minum
  • Lokasi sebaiknya sedekat mungkin dengan lokasi peternakan, sehingga tidak ada waktu dan energi yang terbuang untuk transportasi kotoran sapi nya. Dan kembali diingatkan disini bahwa semakin segar kotoran sapinya maka semakin banyak produksi biogas yang akan di peroleh.
  • Sedapat mungkin kotoran sapi yang dikumpulkan selalu berada di ruang tertutup, atau ditutup agar tidak terjadi pembusukan aerobic, sebelum kotoran sapi tersebut dijadikan slurry yang kemudian di masukan kedalam sumur digester
  • Pilihlah tempat yang terbuka, tembus sinar matahari, karena digester akan bekerja lebih sempurna jika mendapatkan panas yang memadai (sekitar 35 derajat). Sedapat mungkin digester bisa terkena sinar matahari sepanjang hari

Leave a Reply